
Mengapa Manusia Menciptakan Uang? Mengapa Kita Tidak Menukar Kambing dengan iPhone?
Pernahkah kamu berdiri di depan etalase IBGADGETSTORE, menatap iPhone seri terbaru atau Android flagship yang berkilau, lalu mengeluarkan kartu kecil dari dompetmu atau sekadar memindai kode QR untuk membawanya pulang? Pernahkah kamu berhenti sejenak dan berpikir: “Ini gila. Aku baru saja menukar angka digital atau selembar kertas berwarna dengan sebuah teknologi super canggih.” Mengapa kertas itu berharga? Mengapa penjual percaya bahwa angka di layar ponselmu setara dengan barang dagangan mereka? Dan yang paling mendasar Mengapa manusia menciptakan uang? Ini bukan sekadar cerita tentang koin emas atau lembaran Rupiah. Ini adalah kisah tentang evolusi manusia, kepercayaan, dan bagaimana kita berpindah dari menukar hasil buruan di hutan menjadi menukar aset kripto di internet. Duduklah yang nyaman, karena kita akan melakukan perjalanan waktu ribuan tahun ke belakang untuk memahami pondasi ekonomi yang membuat dunia dan transaksi kamu di IBGADGETSTORE bisa berputar hari ini. Dunia Tanpa Uang dan Masalah “Kebetulan Ganda” Bayangkan kamu hidup di tahun 10.000 Sebelum Masehi. Belum ada toko, belum ada bank, dan tentu saja belum ada gadget. Kamu adalah seorang pembuat sepatu kulit yang handal. Suatu hari, kamu merasa lapar dan menginginkan sekarung gandum. Kamu pergi menemui tetanggamu, seorang petani gandum. Kamu menyodorkan sepasang sepatu buatanmu dan berkata, “Tukar gandummu dengan sepatu ini.” Masalah muncul. Petani itu menatap kakimu dan berkata, “Maaf, aku tidak butuh sepatu. Sepatuku masih bagus. Tapi aku butuh baju baru.” Kamu kecewa. Kamu punya sepatu, dia punya gandum, tapi transaksi gagal. Inilah yang disebut oleh para ekonom sebagai “Masalah Kebetulan Ganda Keinginan” (The Double Coincidence of Wants). Agar barter terjadi, kamu harus menemukan orang yang memiliki apa yang kamu inginkan DAN orang itu juga harus menginginkan apa yang kamu miliki pada saat yang bersamaan. Kekacauan Sistem Barter Sistem barter sangat tidak efisien. Bayangkan betapa rumitnya hidupmu jika sistem ini masih berlaku saat kamu ingin upgrade iPhone di IBGADGETSTORE. Tidak Ada Standar Nilai: Berapa harga satu iPhone 15? Apakah setara dengan 50 ekor ayam? Atau 200 kg beras? Atau 3 kali jasa potong rambut? Tanpa uang, setiap transaksi adalah negosiasi yang melelahkan. Sulit Disimpan (Tidak Tahan Lama): Jika kamu kaya raya karena punya 1.000 butir telur, kamu harus segera menukarnya. Jika tidak, “kekayaan” kamu akan membusuk dalam seminggu. Kamu tidak bisa menabung kekayaanmu untuk masa pensiun. Sulit Dibagi: Jika harga seekor sapi setara dengan 10 karung gandum, tapi kamu hanya butuh 1 karung gandum, apa yang harus kamu lakukan? Memotong kaki sapi? Sapi yang dipotong tentu nilainya mati. Manusia purba menyadari bahwa barter membatasi kemajuan mereka. Mereka butuh sebuah perantara. Sesuatu yang bisa diterima oleh si petani gandum, si pembuat baju, dan si pembuat sepatu. Manusia butuh teknologi sosial baru. Dan teknologi itu bernama Uang Komoditas. Dari Cangkang Kerang hingga Garam dalam Evolusi Uang Komoditas Sebelum ada uang kertas atau logam, manusia mulai sepakat untuk menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Benda ini haruslah sesuatu yang diinginkan oleh hampir semua orang, tahan lama, dan cukup langka. Era Kerang Cowrie Salah satu bentuk uang tertua dan paling luas penggunaannya dalam sejarah manusia adalah cangkang kerang Cowrie (Cypraea moneta). Kerang kecil yang indah ini digunakan di Tiongkok, India, hingga Afrika. Mengapa kerang? Sulit dipalsukan: Kamu tidak bisa membuat kerang buatan di zaman itu. Mudah dibawa: Kamu bisa mengantongi ratusan “uang” di saku celanamu. Tahan lama: Tidak akan busuk seperti buah-buahan. Garam yang Asin Namun Manis Nilainya Pernah mendengar kata “Salary” (gaji)? Kata ini berasal dari bahasa Latin “Salarium”, yang berakar dari kata “Sal” atau garam. Di zaman Romawi kuno, tentara sering dibayar dengan garam. Di masa itu, garam sangat berharga untuk mengawetkan makanan (karena belum ada kulkas). Semua orang butuh garam. Jadi, jika kamu punya garam, kamu bisa menukarnya dengan apa saja. Garam adalah uang. Batu Rai di Pulau Yap Salah satu bentuk uang paling unik dalam sejarah ada di Pulau Yap, Mikronesia. Mereka menggunakan batu kapur raksasa berbentuk donat yang disebut Batu Rai. Ukurannya bisa mencapai diameter 3 meter dan beratnya berton-ton. Uniknya, batu ini tidak perlu dipindahkan saat transaksi. Jika Penduduk A membeli tanah dari Penduduk B dengan Batu Rai, batu itu tetap di tempatnya. Semua penduduk desa hanya perlu “tahu” dan “sepakat” bahwa kepemilikan batu itu sudah berpindah. Ini mengajarkan kita satu hal penting tentang uang yang relevan hingga hari ini, yakni Uang adalah tentang buku besar (pencatatan) dan kepercayaan sosial, bukan sekadar fisik bendanya. Konsep ini kelak menjadi dasar dari sistem perbankan modern dan bahkan Blockchain. Revolusi Logam & Kelahiran Koin Pertama Meskipun garam dan kerang berguna, mereka punya kelemahan. Garam bisa mencair jika kena hujan, kerang bisa pecah. Manusia kemudian beralih ke logam seperti Tembaga, Perak, dan Emas. Logam itu kuat, bisa dilebur, dan bisa dibagi-bagi tanpa kehilangan nilainya. Tapi ada masalah baru: Setiap kali transaksi, orang harus menimbang logam tersebut dan menguji kemurniannya. “Apakah ini emas murni atau campuran timah?” Lydia dan Singa yang Mengaum Sekitar tahun 600 SM, di kerajaan Lydia (sekarang wilayah Turki), Raja Alyattes melakukan inovasi yang mengubah dunia. Dia mencetak potongan logam (campuran emas dan perak yang disebut elektrum) dengan berat standar. Yang paling penting, Dia memberi stempel gambar singa pada logam tersebut. Stempel ini adalah jaminan dari Raja. Raja berkata: “Aku menjamin bahwa koin ini memiliki berat sekian dan kemurnian sekian.” Inilah masa dimana ahirnya koin pertama. Orang tidak perlu lagi menimbang setiap kali belanja. Mereka hanya perlu menghitung jumlah koinnya. Perdagangan meledak. Pasar menjadi ramai. Ekonomi tumbuh pesat karena transaksi menjadi cepat. Di belahan dunia lain, Tiongkok juga menciptakan koin tembaga berbentuk bulat dengan lubang kotak di tengahnya (agar bisa diuntai dengan tali). Bentuk ini bertahan selama ribuan tahun. Kertas yang Mengubah Segalanya Membawa ribuan koin tembaga atau emas itu berat. Bayangkan jika kamu ingin membeli stok gadget untuk satu toko IBGADGETSTORE tapi harus membayarnya dengan gerobak berisi koin logam. Sangat berisiko dirampok dan merepotkan. “Uang Terbang” di Tiongkok Pada masa Dinasti Tang dan Song di Tiongkok, para pedagang mulai lelah membawa beban berat koin. Mereka mulai menitipkan koin mereka di tempat penyimpanan terpercaya, dan sebagai gantinya, mereka mendapat selembar kertas bukti simpanan (kwitansi). Kertas ini bernilai: “Siapapun yang membawa kertas ini berhak mengambil 1000 koin tembaga di penyimpanan.” Lama-kelamaan, pedagang berpikir, “Mengapa aku harus repot mengambil koinnya? Aku berikan saja kertas ini ke pedagang lain untuk membayar barang.” Selama

















