0
Mengapa Manusia Menciptakan Uang_ Mengapa Kita Tidak Menukar Kambing dengan iPhone

Share:

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp

Mengapa Manusia Menciptakan Uang? Mengapa Kita Tidak Menukar Kambing dengan iPhone?

Pernahkah kamu berdiri di depan etalase IBGADGETSTORE, menatap iPhone seri terbaru atau Android flagship yang berkilau, lalu mengeluarkan kartu kecil dari dompetmu atau sekadar memindai kode QR untuk membawanya pulang? Pernahkah kamu berhenti sejenak dan berpikir: “Ini gila. Aku baru saja menukar angka digital atau selembar kertas berwarna dengan sebuah teknologi super canggih.”

Mengapa kertas itu berharga? Mengapa penjual percaya bahwa angka di layar ponselmu setara dengan barang dagangan mereka? Dan yang paling mendasar Mengapa manusia menciptakan uang?

Ini bukan sekadar cerita tentang koin emas atau lembaran Rupiah. Ini adalah kisah tentang evolusi manusia, kepercayaan, dan bagaimana kita berpindah dari menukar hasil buruan di hutan menjadi menukar aset kripto di internet.

Duduklah yang nyaman, karena kita akan melakukan perjalanan waktu ribuan tahun ke belakang untuk memahami pondasi ekonomi yang membuat dunia dan transaksi kamu di IBGADGETSTORE bisa berputar hari ini.

Dunia Tanpa Uang dan Masalah “Kebetulan Ganda”

Bayangkan kamu hidup di tahun 10.000 Sebelum Masehi. Belum ada toko, belum ada bank, dan tentu saja belum ada gadget. Kamu adalah seorang pembuat sepatu kulit yang handal. Suatu hari, kamu merasa lapar dan menginginkan sekarung gandum.

Kamu pergi menemui tetanggamu, seorang petani gandum. Kamu menyodorkan sepasang sepatu buatanmu dan berkata, “Tukar gandummu dengan sepatu ini.”

Masalah muncul. Petani itu menatap kakimu dan berkata, “Maaf, aku tidak butuh sepatu. Sepatuku masih bagus. Tapi aku butuh baju baru.”

Kamu kecewa. Kamu punya sepatu, dia punya gandum, tapi transaksi gagal. Inilah yang disebut oleh para ekonom sebagai “Masalah Kebetulan Ganda Keinginan” (The Double Coincidence of Wants). Agar barter terjadi, kamu harus menemukan orang yang memiliki apa yang kamu inginkan DAN orang itu juga harus menginginkan apa yang kamu miliki pada saat yang bersamaan.

Kekacauan Sistem Barter

Sistem barter sangat tidak efisien. Bayangkan betapa rumitnya hidupmu jika sistem ini masih berlaku saat kamu ingin upgrade iPhone di IBGADGETSTORE.

  1. Tidak Ada Standar Nilai: Berapa harga satu iPhone 15? Apakah setara dengan 50 ekor ayam? Atau 200 kg beras? Atau 3 kali jasa potong rambut? Tanpa uang, setiap transaksi adalah negosiasi yang melelahkan.

  2. Sulit Disimpan (Tidak Tahan Lama): Jika kamu kaya raya karena punya 1.000 butir telur, kamu harus segera menukarnya. Jika tidak, “kekayaan” kamu akan membusuk dalam seminggu. Kamu tidak bisa menabung kekayaanmu untuk masa pensiun.

  3. Sulit Dibagi: Jika harga seekor sapi setara dengan 10 karung gandum, tapi kamu hanya butuh 1 karung gandum, apa yang harus kamu lakukan? Memotong kaki sapi? Sapi yang dipotong tentu nilainya mati.

Manusia purba menyadari bahwa barter membatasi kemajuan mereka. Mereka butuh sebuah perantara. Sesuatu yang bisa diterima oleh si petani gandum, si pembuat baju, dan si pembuat sepatu.

Manusia butuh teknologi sosial baru. Dan teknologi itu bernama Uang Komoditas.

Dari Cangkang Kerang hingga Garam dalam Evolusi Uang Komoditas

Sebelum ada uang kertas atau logam, manusia mulai sepakat untuk menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Benda ini haruslah sesuatu yang diinginkan oleh hampir semua orang, tahan lama, dan cukup langka.

Era Kerang Cowrie

Salah satu bentuk uang tertua dan paling luas penggunaannya dalam sejarah manusia adalah cangkang kerang Cowrie (Cypraea moneta). Kerang kecil yang indah ini digunakan di Tiongkok, India, hingga Afrika. Mengapa kerang?

  • Sulit dipalsukan: Kamu tidak bisa membuat kerang buatan di zaman itu.

  • Mudah dibawa: Kamu bisa mengantongi ratusan “uang” di saku celanamu.

  • Tahan lama: Tidak akan busuk seperti buah-buahan.

 

Garam yang Asin Namun Manis Nilainya

Pernah mendengar kata “Salary” (gaji)? Kata ini berasal dari bahasa Latin “Salarium”, yang berakar dari kata “Sal” atau garam. Di zaman Romawi kuno, tentara sering dibayar dengan garam.

Di masa itu, garam sangat berharga untuk mengawetkan makanan (karena belum ada kulkas). Semua orang butuh garam. Jadi, jika kamu punya garam, kamu bisa menukarnya dengan apa saja. Garam adalah uang.

 

Batu Rai di Pulau Yap

Salah satu bentuk uang paling unik dalam sejarah ada di Pulau Yap, Mikronesia. Mereka menggunakan batu kapur raksasa berbentuk donat yang disebut Batu Rai. Ukurannya bisa mencapai diameter 3 meter dan beratnya berton-ton.

Uniknya, batu ini tidak perlu dipindahkan saat transaksi. Jika Penduduk A membeli tanah dari Penduduk B dengan Batu Rai, batu itu tetap di tempatnya. Semua penduduk desa hanya perlu “tahu” dan “sepakat” bahwa kepemilikan batu itu sudah berpindah.

Ini mengajarkan kita satu hal penting tentang uang yang relevan hingga hari ini, yakni Uang adalah tentang buku besar (pencatatan) dan kepercayaan sosial, bukan sekadar fisik bendanya. Konsep ini kelak menjadi dasar dari sistem perbankan modern dan bahkan Blockchain.

Revolusi Logam & Kelahiran Koin Pertama

Meskipun garam dan kerang berguna, mereka punya kelemahan. Garam bisa mencair jika kena hujan, kerang bisa pecah. Manusia kemudian beralih ke logam seperti Tembaga, Perak, dan Emas.

Logam itu kuat, bisa dilebur, dan bisa dibagi-bagi tanpa kehilangan nilainya. Tapi ada masalah baru: Setiap kali transaksi, orang harus menimbang logam tersebut dan menguji kemurniannya. “Apakah ini emas murni atau campuran timah?”

Lydia dan Singa yang Mengaum

Sekitar tahun 600 SM, di kerajaan Lydia (sekarang wilayah Turki), Raja Alyattes melakukan inovasi yang mengubah dunia. Dia mencetak potongan logam (campuran emas dan perak yang disebut elektrum) dengan berat standar.

Yang paling penting, Dia memberi stempel gambar singa pada logam tersebut.

Stempel ini adalah jaminan dari Raja. Raja berkata: “Aku menjamin bahwa koin ini memiliki berat sekian dan kemurnian sekian.”

Inilah masa dimana ahirnya koin pertama. Orang tidak perlu lagi menimbang setiap kali belanja. Mereka hanya perlu menghitung jumlah koinnya. Perdagangan meledak. Pasar menjadi ramai. Ekonomi tumbuh pesat karena transaksi menjadi cepat.

Di belahan dunia lain, Tiongkok juga menciptakan koin tembaga berbentuk bulat dengan lubang kotak di tengahnya (agar bisa diuntai dengan tali). Bentuk ini bertahan selama ribuan tahun.

Kertas yang Mengubah Segalanya

Membawa ribuan koin tembaga atau emas itu berat. Bayangkan jika kamu ingin membeli stok gadget untuk satu toko IBGADGETSTORE tapi harus membayarnya dengan gerobak berisi koin logam. Sangat berisiko dirampok dan merepotkan.

“Uang Terbang” di Tiongkok

Pada masa Dinasti Tang dan Song di Tiongkok, para pedagang mulai lelah membawa beban berat koin. Mereka mulai menitipkan koin mereka di tempat penyimpanan terpercaya, dan sebagai gantinya, mereka mendapat selembar kertas bukti simpanan (kwitansi).

Kertas ini bernilai: “Siapapun yang membawa kertas ini berhak mengambil 1000 koin tembaga di penyimpanan.”

Lama-kelamaan, pedagang berpikir, “Mengapa aku harus repot mengambil koinnya? Aku berikan saja kertas ini ke pedagang lain untuk membayar barang.”

Selama orang percaya bahwa kertas itu bisa ditukar kembali menjadi logam, kertas itu berfungsi sebagai uang. Orang Tiongkok menyebutnya Feiqian atau “Uang Terbang” karena bisa terbang tertiup angin, tidak seperti koin.

 

Tukang Emas di Eropa dan Awal Mula Bank

Di Eropa, cerita serupa terjadi. Orang-orang menitipkan emas mereka pada Tukang Emas (Goldsmiths) yang memiliki brankas kuat. Tukang emas memberikan surat bukti simpanan (banknote).

Para tukang emas ini kemudian menyadari fakta menarik bahwa Orang-orang jarang datang mengambil emas mereka secara bersamaan.

Jadi, tukang emas mulai berani meminjamkan “surat bukti” lebih banyak daripada jumlah emas asli yang ada di brankas mereka, sambil memungut bunga. Inilah awal mula Sistem Perbankan Cadangan Fraksional (Fractional Reserve Banking) yang digunakan seluruh bank di dunia saat ini.

Uang kertas lahir bukan karena nilainya sendiri, tapi karena ia adalah “janji” untuk membayar.

 

Memutus Rantai Emas Di Era Uang Fiat

Selama berabad-abad, uang kertas di dunia “di-back-up” oleh emas. Ini disebut Standar Emas. Setiap dolar atau rupiah yang beredar, teorinya, ada cadangan emas yang menyertainya di bank sentral. Kamu bisa menukar uang kertasmu dengan emas fisik.

Namun, sistem ini membatasi negara. Jika negara ingin mencetak uang untuk membangun jalan atau membiayai perang, mereka harus mencari emas dulu. Ekonomi menjadi kaku.

Kejutan Nixon 1971

Pada tahun 1971, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon membuat pengumuman mengejutkan. Ia memutuskan hubungan antara Dolar AS dan emas. Dolar tidak lagi bisa ditukar dengan emas.

Sejak saat itu, seluruh mata uang dunia perlahan mengikuti. Kita memasuki era Uang Fiat.

Apa itu Uang Fiat? “Fiat” berasal dari bahasa Latin yang berarti “Let it be done” atau titah/perintah. Uang Fiat adalah uang yang tidak memiliki nilai intrinsik (kertasnya murah) dan tidak dijamin oleh emas.

Lalu, kenapa uang di dompetmu berharga?

  1. Karena Pemerintah Mengatakannya: Negara menetapkan itu sebagai alat pembayaran yang sah (Legal Tender). Kamu wajib membayar pajak menggunakan uang itu.

  2. Karena Kepercayaan (Trust): Kamu menerimanya karena kamu percaya besok orang lain juga akan menerimanya.

Inilah momen krusial dalam sejarah. Uang berubah dari benda bernilai menjadi kepercayaan murni. Saat kamu membeli smartphone di IBGADGETSTORE, kamu tidak menukar emas. Kamu menukar simbol kepercayaan yang disepakati oleh seluruh masyarakat Indonesia bahwa lembaran rupiah itu memiliki daya beli.

Psikologi Uang: Mengapa Kita Menginginkannya?

Sebelum kita masuk ke era digital, mari kita bahas sisi manusianya. Mengapa manusia begitu terobsesi menciptakan dan mengumpulkan uang?

Secara evolusi, uang adalah jaring pengaman. Di masa purba, “kaya” berarti punya banyak lemak tubuh atau tumpukan makanan untuk bertahan di musim dingin. Di masa modern, uang menggantikan lemak itu. Uang memanipulasi sistem dopamin di otak kita.

Ada konsep yang disebut “Hedonic Treadmill”. Manusia cenderung cepat beradaptasi dengan tingkat kekayaan baru. Dulu kamu mungkin merasa cukup dengan HP entry-level. Setelah punya uang, kamu beli HP flagship di IBGADGETSTORE. Bahagianya bertahan sebulan, lalu kamu merasa biasa saja dan menginginkan yang lebih baru lagi.

Uang diciptakan manusia untuk memecahkan masalah logistik (barter), tetapi tanpa sadar, manusia menciptakan masalah psikologis baru. Uang menjadi simbol status, kekuasaan, dan kebebasan.

Bahaya Mencetak Uang & Mimpi Buruk Hiperinflasi

Jika uang fiat hanya berbasis kepercayaan dan kertas, kenapa negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya lalu membagikannya agar semua orang kaya?

Ini adalah pertanyaan klasik. Jawabannya ada dalam sejarah kelam Hiperinflasi.

Jerman (Republik Weimar, 1923)

Setelah Perang Dunia I, Jerman harus membayar utang perang. Mereka mencetak uang gila-gilaan. Hasilnya? Harga barang naik lebih cepat daripada tintanya kering. Orang-orang membawa uang menggunakan gerobak dorong hanya untuk membeli roti. Anak-anak bermain dengan tumpukan uang kertas karena mainan lebih mahal daripada uang itu sendiri.

Zimbabwe (2008)

Di Zimbabwe, inflasi mencapai 79 miliar persen per bulan. Pemerintah mencetak uang kertas pecahan 100 Triliun Dolar. Tapi uang 100 Triliun itu bahkan tidak cukup untuk membeli tiket bus.

Pelajaran dari sini: Nilai uang bukan pada jumlah nominalnya, tapi pada kelangkaannya. Jika semua orang punya miliaran rupiah, maka harga iPhone di IBGADGETSTORE mungkin akan menjadi triliunan rupiah. Daya beli tetap sama, hanya angkanya yang bertambah nol.

Manusia menciptakan uang dengan aturan main yang ketat. Bank Sentral (seperti Bank Indonesia) bertugas menjaga keseimbangan ini. Mencetak cukup uang agar ekonomi berputar, tapi tidak terlalu banyak agar harga tetap stabil.

Uang di Era Digital Menuju Masyarakat Tanpa Tunai (Cashless)

Sekarang, mari kita kembali ke masa kini, saat kamu berdiri di kasir IBGADGETSTORE.

Perhatikan bahwa penggunaan uang tunai (fisik) semakin berkurang. Kita sedang mengalami revolusi ketiga setelah koin dan kertas, yaitu Uang Digital.

Sejak munculnya kartu kredit di tahun 1950-an, uang mulai menjadi data elektronik. Hari ini, dengan adanya QRIS, Mobile Banking, dan E-Wallet, uang benar-benar menjadi “tak terlihat”.

Kelebihan Uang Digital:

  1. Kecepatan: Transaksi terjadi dalam hitungan detik, melintasi samudra.

  2. Keamanan: Jika dompetmu hilang, uangmu hilang. Jika HP-mu hilang, uang di rekening masih bisa diselamatkan (asal password-mu aman).

  3. Jejak Audit: Setiap pembelian tercatat. Ini memudahkan pelacakan pengeluaran (atau mempersulit pencucian uang).

Bagi bisnis seperti IBGADGETSTORE, ini sangat memudahkan. Kami bisa melayanimu lebih cepat, tanpa perlu pusing mencari uang kembalian receh, dan pencatatan stok menjadi lebih akurat.

Cryptocurrency dan Blockchain

Evolusi terbaru adalah Cryptocurrency (seperti Bitcoin). Ini adalah upaya manusia untuk menciptakan uang yang tidak dikontrol oleh negara/bank sentral, melainkan oleh algoritma matematika dan komunitas.

Apakah ini masa depan? Masih diperdebatkan. Tapi ini menunjukkan bahwa konsep “apa itu uang” masih terus berevolusi. Dari cangkang kerang ke Bitcoin, benang merahnya tetap sama, Kesepakatan bersama.

Fungsi Uang dalam Kehidupan Modern Kamu

Setelah mengetahui sejarah panjang ini, apa artinya bagi kamu sebagai pelanggan setia IBGADGETSTORE?

Uang memiliki tiga fungsi utama yang membuat hidupmu di abad 21 ini nyaman:

  1. Alat Tukar (Medium of Exchange):
    Ini fungsi paling dasar. Kamu bekerja sebulan, mendapat gaji (uang). Uang itu kamu bawa ke IBGADGETSTORE untuk ditukar dengan iPhone baru. Tanpa uang, kamu harus bekerja di toko kami selama sebulan untuk mendapatkan ponsel itu. Uang memberimu kebebasan memilih.

  2. Satuan Hitung (Unit of Account):
    Uang memungkinkan kita membandingkan nilai. Kamu bisa melihat daftar harga: iPhone 11 sekian rupiah, iPhone 15 sekian rupiah. Kamu langsung tahu beda nilainya. Tanpa satuan hitung (Rupiah), bagaimana kita tahu berapa nilai beda kedua barang tersebut?

  3. Penyimpan Nilai (Store of Value):
    Kamu bisa menyimpan gajimu bulan ini untuk dibelanjakan tahun depan. Asalkan inflasi terkendali, nilai kerjamu hari ini bisa “diawetkan” dalam bentuk tabungan.

Uang adalah Cermin Peradaban

Manusia menciptakan uang bukan sekadar karena kita ingin belanja. Kita menciptakan uang karena kita adalah makhluk sosial yang perlu bekerja sama.

Kita tidak bisa memproduksi semua kebutuhan kita sendiri. Kamu tidak bisa membuat makanan, menjahit baju, merakit chipset prosesor, dan membangun rumah sendirian. Kita butuh orang lain. Uang adalah bahasa yang kita gunakan untuk menghargai kontribusi orang lain terhadap hidup kita.

Saat kamu membayar sebuah produk di IBGADGETSTORE, sebenarnya kamu sedang memberikan sertifikat penghargaan kepada ribuan orang yang terlibat dalam pembuatan produk tersebut. Mulai dari penambang silikon, perakit di pabrik, pengemudi truk logistik, hingga staf toko yang melayanimu. Uangmu adalah cara kamu berkata Terima kasih atas kerjamu kepada dunia.

Jadi, uang bukan akar dari segala kejahatan, dan bukan pula dewa. Uang adalah teknologi terhebat yang pernah diciptakan manusia untuk membangun kepercayaan dalam skala global.

Apa Langkah Selanjutnya?

Sekarang kamu tahu bahwa uang adalah alat, bukan tujuan. Sebagai alat, kitalah yang harus mengendalikannya.

Di IBGADGETSTORE, kami percaya bahwa uang yang kamu keluarkan haruslah bernilai (value for money). Kami memahami betapa kerasnya manusia bekerja untuk mengumpulkan alat tukar ini sejak zaman barter hingga zaman digital.

Oleh karena itu, setiap kali kamu memutuskan untuk membelanjakan uangmu untuk gadget baru, pastikan kamu mendapatkan kualitas terbaik, pelayanan terpercaya, dan jaminan keamanan. Karena sejarah uang adalah sejarah kepercayaan, dan menjaga kepercayaanmu adalah prioritas kami.

Hargai uangmu, belanjalah dengan bijak, dan sampai jumpa di transaksi berikutnya!

Beli iPhone Di Website Resmi

  • iPhone 13 Pro Max 64GB 128GB 256GB 500GB 1TB 2TB Second New iBox New GDN New TAM All Operator Murah All Color

    iPhone 13 Pro Max

    Rp8.799.000Rp10.499.000
  • Tempered Glass Full Clear
    ↓ 33%

    Tempered Glass Full Clear

    Harga aslinya adalah: Rp75.000.Harga saat ini adalah: Rp50.000.
  • Tempered Glass iPhone
    ↓ 73%

    Tempred Glass Full Privacy Anti Spy

    Rp65.000Rp125.000
  • iPhone 15 64GB 128GB 256GB 500GB 1TB 2TB Second New iBox New GDN New TAM All Operator Murah Grey

    iPhone 15 New

    Rp11.499.000Rp13.999.000

Belanja Gadget Mudah dan Puas!

Kunjungi Cabang Terdekat Dapatkan Promonya

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Semarang

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Purwokerto

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Jogja

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Solo

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Kudus

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Pekalongan

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Tegal

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Pati

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Magelang

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Malang

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Madiun

IBGADGETSTORE - Toko iPhone Surabaya

IBGADGETSTORE Flash Sale
IBGADGETSTORE
âš¡ PRIME TIME SALE
00
JAM
:
00
MENIT
:
00
DETIK

IBGADGETSTORE menjual iPhone dan Android terlengkap di Kota Semarang dengan garansi sampai 1 tahun. Kini telah memiliki cabang di Jogja, Kudus, Solo, Jakarta dan Purwakarta